MATA HATI

deru suara hati

WANITA PERKASA


ibukPanas yang terik di siang itu tak menghalangi keceriaan dan kegembiraan yang muncul , hal tersebut terlihat dengan jelas dari pancaran wajah dan gerak tubuh mereka. Tiga orang perempuan terlihat duduk dibawah sementara lima orang pria duduk sambil bersila diatas pondok kecil tak berdidinding yang menjadi tempat istirahat mereka di sebuah penggilingan padi di Desa Manistutu, Jembrana.

Piring dan gelas yang kosong menandakan mereka sedang beristirahat setelah selesai makan siang sambil menunggu waktu untuk melanjutkan pekerjaan mengeringkan gabah yang baru saja dipanen.

Dalam pandangan saya sangat jelas tergambar perbedaan yang nyata antara pria dan wanita dalam situasi tersebut. Dari dulu wanita selalu diposisikan sebagai pihak yang lemah dibandingkan laki laki , diangap lebih rendah martabatnya dan tidak tahu apa apa.

 

Bahkan kondisi wanita yang seperti ini diabadikan dalam sebuah lagu dengan judul “Sabda Alam” yang salah satu penggalan syairnya sangat kita kenal dengan baik. Lagu yang secara tidak sengaja terdengar dari radio yang ada di mobil saya dan terasa sangat pas dengan pemandangan yang baru saja saya lihat.

Wanita dijajah pria sejak dulu …..

Dijadikan perhiasan sangkar madu…..

 

ibuukSaya lantas berpikir dan berusaha mencerna syair lagu tadi dan semakin saya rasakan kalau sesungguhnya tidak tepat kalau dianggap wanita demikian. Secara alami kondisi fisik wanita memang lebih lemah daripada pria , tapi kenyataannya pekerjaan dan beragam hal yang dilakukan oleh wanita , apalagi wanita dengan status sebagai istri dan ibu jauh lebih berat, mau bukti ?

Sementara lelaki hanya perlu berkonsentrasi penuh terhadap pekerjaannya , tapi seorang ibu mesti melakukan banyak hal :

  •      menyiapkan sarapan suami dan anak anak
  •      memandikan anak
  •      menyiapkan baju untuk anak
  •      merapikan rumah
  •      belanja
  •      masak
  •      nyuci
  •      nyetrika
  •      menyuapi dan menidurkan si kecil
  •      berangkat kerja
  •      membantu bikin PR anak
  •      pusing memikirkan anak yang sakit
  •      dlll

 Anda lihat sendiri , sungguh bukan pekerjaan yang mudah !

Bahkan memasak yang hanya terdiri dari satu kata tetapi bila dijabarkan terdiri dari banyak sekali rangkaian kegiatan mulai dari memikirkan resep,menyiapkan bumbu,memasak hingga matang dan menyajikannya ke meja makan. Dan akan menjadi peristiwa yang sering menyakitkan hati ketika makanan yang dimasak dengan sepenuh hati dan penuh cinta ternyata dimakan dengan tidak berselera oleh sang suami dan anaknya, apalagi bila ternyata makanan tersebut tidak disentuh sama sekali…

 

Dalam kondisi normal saja semua pekerjaan tadi sudah sangat melelahkan , tapi para wanita tangguh tersebut tetap melakukan pekerjaannya tanpa pernah mengeluh walaupun mereka sedang hamil, bayangkan ?

Dengan seabreg pekerjaan rumah tangga yang saya sebutkan diatas , masih banyak wanita yang juga harus ikut bekerja menambah penghasilan ekonomi keluarga. Sungguh luar biasa kekuatan dan ketangguhan mahluk yang selalu kita bilang mahluk lemah itu.

Oleh karena itu , coba kita renungkan kembali para wanita yang selalu ada dan sangat dekat di sekitar kita : ibu dan istri tercinta.

Marilah berusaha lebih berempati, menghargai dan mengingat betapa besarnya peran mereka dalam kehidupan kita. Jangan kita selalu merasa lebih capek , lebih hebat dan lebih berjasa dalam keluarga ketimbang wanita. Karena sesungguhnya merekalah yang harus lebih kita hargai dan hormati dalam kehidupan ini.

Bila mungkin kita baru menyadarinya sekarang , tapi Nabi besar Muhammad SAW sudah mengatakannya sejak 1400 tahun yang lalu, dimana dalam salah satu hadisnya :

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

 

Semoga bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua terutama bagi diri sendiri …………

 

Negara , Mei 2014

06/05/2014 - Posted by | Keseharian, Renungan

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: