MATA HATI

deru suara hati

AKPOL SEBUAH KISAH TENTANG LEMDIK


CERITA BERMULA

akpolPada periode pertangahan tahun 1999-2001 saya mendapatkan kesempatan untuk bertugas mengabdi ke almamater tercinta di Akpol bersama sekitar 30 orang perwira lainnya yang termuat dalam satu telegram yang sama.

Sebelumnya saya bertugas di Polres Bantul Polda DIY sebagai Kapolsek Sanden , masih jelas dalam ingatan saya usai pelaksanaan Pilpres tahun 1999 yang merupakan Pemilu pertama di alam reformasi dan ditandai dengan banyaknya kontestan pemilu yang membengkak dari 3 partai menjadi 49 partai sehingga dikenal pula dengan Pemilu Multi Partai.

Begitu hasil pemilu secara resmi diumumkan dan pemenangnya adalah Megawati maka seminggu kemudian ST saya untuk pindah ke Akademi Kepolisian juga turun.

Tulisan saya kali ini terinspirasi dari tulisan Rhenald Kasali pada kolom Opini di harian Kompas hari ini ,Rabu tanggal 23 April 2009 yang berjudul “JIS dan Anak Anak Kita”. Dalam tulisan tersebut ia mengatakan tentang pentingnya kemampuan observasi dari seorang guru terhadap anak atau murid yang menjadi peserta didiknya.

Guru harus menajdi orang pertama yang mampu membaca keresahan di wajah sang murid dan berusaha mencari tahu apa penyebabnya sekaligus solusinya dan memang demikianlah sejatinya tugas seorang guru menurut beliau.

Tulisan tersebut menyisakan pertanyaan di benak saya , “ Apakah ketika saya menjadi pembina di Akpol dulu sudah mampu bertindak layaknya seorang guru seperti kata Rhenald Kasali ?”

Salah satu tuntutan menjadi seorang guru adalah mampu juga untuk berperan sebagai pengganti orang tua, kakak sekaligus pengasuh dan pembina murid . Sementara Pengasuh atau Pembina memang bukanlah guru tapi saya ingat kami dulu juga dituntut untuk menajadi guru bagi para Taruna.

Kembali ke masa penugasan saya di Akpol , jabatan saya adalah sebagai Dantontar Yon X , alias batalyon Capratar yang baru saja lolos seleksi dan akan dilantik menjadi seorang Pratar. Sebagai informasi saja bahwa tahun 1999 adalah tahun terakhir para Calon Taruna Akpol diseleksi secara terpusat di AKMIL atau yang kita kenal dulu dengan nama WERVING.

Karena untuk tahun tahun selanjutnya AKPOL melaksanakan seleksi secara mandiri terhadap para lulusan SMA yang berminat menjadi seorang Perwira Polri tanpa harus daftar ke Ajendam dan mengikuti werving di Magelang. Kemudian ternyata sistem ini juga ditiru oleh matra lain di TNI , mengapa?

Hal tersebut beranjak dari suatu pola pikir , bahwa untuk menumbuhkan kecintaan pada almamater haruslah ditanamkan sejak awal, yang berarti ketika saya mendaftar ke lokasi pendaftaran di TNI AU adalah karena memang saya ingin menjadi seorang Penerbang bukannya seorang Pelaut . Tidak seperti di jaman saya dulu pokoknya jadi AKABRI terserah nanti mau jadi Polisi ,Penerbang ,Pelaut atau Tentara.

APA KAITANNYA DENGAN TULISAN RHENALD KASALI ?

Saat menjadi Dantontar atau istilah yang paling terkenal dan sering kita ucapkan adalah menjadi “PENGASUH” otomatis bertugas di bidang pengasuhan. Karena selama Taruna mengikuti kegiatan di luar proses belajar mengajar maka kegiatan tersebut dinamakan kegiatan pengasuhan dan menjadi tanggung jawab Mentarsis ( Resimen Taruna dan Siswa ).

Sedangkan selama mengikuti kegiatan pengajaran maka keseluruhannya menjadi tanggung jawab dosen , pelatih dan Instruktur dimana dua kualifikasi terakhir yaitu instruktur dan pelatih hanya berlaku untuk pelajaran fisik dan lapangan. Seingat saya selaku pengasuh kami tidak pernah mendapatkan pelatihan khusus tentang bagaimana menjadi seorang Pengasuh ataupun pejabat di lingkungan Mentarsis.

Yang penting datang dengan membawa surat penugasan , mendapatkan Skep jabatan di Mentarsis , mengurus pindahan dari Polda asal ke asrama di Akpol dan selanjutnya melaksanakan tugas karena dianggap sudah mampu.

Kami bukanlah guru tapi dituntut untuk mampu menjadi seorang guru sekaligus pembina dan pengasuh bagi para Taruna sebagai calon pimpinan Polri di masa yang akan datang. Tugas yang bukan main beratnya karena ditangan kami ini ada sedikit andil untuk masa depan Polri.

BAGAIMANA CARA SAYA MELAKSANAKAN TUGAS SAAT ITU ?

mbSaat bertugas di Akpol pada tahun 1999 pangkat saya adalah Letnan Dua dengan pengalaman dinas baru 2 tahun karena setelah dilantik Desember 1996 ( senior kami angkatan 95 dan sebelumnya dilantik di istana setiap bulan Juli ) saya masih harus mengikuti program Pasis selama 6 bulan barulah kemudian kembali ke Akpol untuk tupdik Pasis dan ditempatkan di Polda yang baru.

Maka dengan pengalaman bertugas yang masih seumur jagung dan bau kencur  saya dituntut harus mampu membina dan mengasuh Taruna agar menjadi Taruna yang baik  serta mengantarkan mereka ke jenjang Perwira dengan sukses.

Jadi ilmu apa yang saya punya untuk bertugas ? Terus terang hanyalah dengan membayangkan apa saja yang dilakukan oleh para senior saya yang menjadi pengasuh kami dulu saat menjadi Taruna antara tahun 1993-1996 sekaligus bagaimana ketika saya menjadi Taruna dulu.

Dan ada beberapa orang yang jumlahnya hanya segelintir dan punya kemampuan ikut menjadi Asdos alias asisten dosen yang mendampingi atau menggantikan ketika berhalangan dosen utama khusus untuk mata pelajaran FT Kepolisian .

Artinya saat melaksanakan tugas , setelah saya evaluasi sekarang, saya lebih banyak memposisikan diri sebagai seorang Mayor Taruna karena masih Letda ketimbang berperan menjadi pengasuh , yang kerjaannya mengecek PUD Taruna , kebersihan flat dan kamar mandi , mengawasi kurvey , olah raga sore, belajar malam ,dll.

Karena yang saya lakukan tidak jauh beda dengan Danton/Danki/Danyonkor Taruna , cuma bedanya kami wajib memberi nilai kepribadian Taruna setiap minggu dan saya sudah menajdi Perwira sehingga bisa lebih bebas.

Tapi tetap saja sama kelakuannya dalam arti mencari pelanggaran dan kesalahan Taruna dan kemudian memberi tindakan plus hukuman yang lagi lagi “seperti apa yang dilakukan pengasuh kami dulu”, yaitu dengan memberikan ulasan kegiatan Taruna saat apel malam dengan mereview kegiatan mereka dan memberikan koreksi kesalahan mereka yang itu itu juga “seprai lecek, lambat apel, ketiduran,ninja pelajaran,PDH garaman,tidur saat diemberin,dll”.

Dan selanjutnya sejarah kembali berulang dengan memberi perintah , “ Danyonkor , agar Taruna diberi tindakan !”, yang berati satu set tindakan push up, sit up , sikap tobat , jungkir hingga merayap mengukur panjangnya lapangan apel resimen.

KESIMPULAN

Taruna AKABRI_00041. Taruna masih sama seperti jaman saya dulu mengikuti pendidikan.
Taruna pasti kuat , pasti tabah , tidak boleh cengeng dan siap ditindak kapan saja serta harus menerima setiap hukuman tanpa boleh membantah.

2. Pengasuh pasti bisa dan hebat
Para Dantontar yang berpangkat Letda/Lettu Pol dan para Dankitar yang berpangkat Lettu/Kapten Pol itu sudah bisa melakukan tugas pengasuhan dan dianggap mampu bekerja apa saja dalam mendidik para Taruna.

Dengan kondisi demikian , maka pada jaman itu hanya karena adanya persepsi dari Taruna yang memandang para komandannya hebat dan bisa apa saja maka mereka mau mematuhi perintah kami . Serta takut dikeluarkan karena melanggar peraturan hingga buyarlah impian menjadi perwira.

3. Tidak dibekali ilmu mendidik

Kami memang diberi ilmu yang lengkap tentang pengetahuan kepolisian dan keilmuan lainnyasaat menjadi Taruna. Tapi seingat saya ,tidak pernah dibekali ilmu mengajar , membina dan mengasuh , apalagi tentang “psikologi pendidikan”. Sehingga harus jujur saya katakan sesungguhnya kami tidak punya bekal ketrampilan yang cukup untuk menjadi seorang Pengasuh/Pembina apalagi guru.

Perilaku Taruna yang dirasa aneh bisa kami deteksi hanyalah karena didasari pengalaman saat menjadi Taruna saja yang berarti solusi yang dapat kami berikan juga sama seperti yang pengasuh kami lakukan dulu.

PENUTUP

Saya yakin dan percaya bahwa kondisi saat ini pasti sudah jauh berbeda dengan masa masa saya dulu menjadi pembina di Akpol , dan mudah mudahan saja siapapun yang mendapatkan penugasan untuk mengabdi di Akpol terutama bertugas di Mentarsis selalu diawali dengan pelatihan serta pembekalan.

Sehingga diharapkan Taruna sebagai subyek dan obyek pendidikan yang dihasilkan , kelak benar benar menjadi seorang Perwira Polri yang diharapkan baik dari sisi kemampuan , keahlian maupun profesionalismenya.

Negara ,  April 2014

23/04/2014 - Posted by | Kedinasan

1 Comment »

  1. Menjadi seorang pendidik dan pengasuh memang tidak semudah apa yang dibayangkan orang , perlu pengetahuan tentang kependidikan, untuk mengasuh perlu penguasaan bimbingan dan counselling jika tidak ya salah asuh padahal pendidikan pembentukan yang pertama membentuk karakter seorang polisi

    Comment by hetty methy | 27/02/2015 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: