MATA HATI

deru suara hati

KEKERASAN TERHADAP ANAK DAN TEKNIK PENYIDIKANNYA


anak 2Saat ini publik tengah dihentakkan dengan liputan tentang Yayasan Samuel di daearah Tangerang dimana belasan anak disekap dan diberlakukan secara tidak layak sehingga segera saja menarik perhatian publik secara luas.  Dan seperti efek domino berbagai kasus serupa satu persatu muncul dan terungkap di berbagai daerah di Indonesia.

Hati kita dibuat miris dengan derita yang harus ditanggung oleh anak anak tak berdosa tersebut. Anak yang sudah tidak lagi memiliki orang tua , haus akan belaian kasih sayang namun justru diperlakukan sebalinya oleh pasangan suami istri yang mengaku sebagai orang tua pengganti mereka.

anak 1Setiap hari makan mi instan, didandani dengan rapi dan harus bersikap manis saat dermawan datang tapi kemudian menjadi budak dan sasaran pelampiasan emosi bila sang pasutri marah. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi mereka seperti menjadi alat untuk menarik simpati dermawan yang keuntungannnya bukan untuk para anak anak tapi justru untuk pasutri itu sendiri.

Polda Metro Jaya kemudian bertindak cepat untuk melakukan penyidikan dan tentunya kita sama sama berharap bahwa kasus ini dapat segera dituntaskan . Namun ada hal yang perlu diperhatikan dengan seksama serta cermat dalam melakukan penyidikan terhadap anak anak yang menjadi korban. Karena cara melakukan interogasi terhadap orang orang dewasa sangat jauh berbeda dengan melakukan hal yang sama terhadap anak anak.

apeelSaya termasuk orang yang beruntung karena mendapat kesempatan untuk mengikuti kursus siingkat selama 3 minggu di sebuah kota kecil nan indah bernama Apeldoorn di negeri Belanda dengan materi tentang Human Trafficking.

Tapi hal tersebut tidak saya dapatkan dengan mudah karena saya harus mengikuti seleksi dengan peserta yang datang dari seluruh Indonesia dan kemudain hanya 10 orang yang terpilih untuk berangkat.

Materi yang kami terima tentunya banyak berkaitan dengan bagaimana praktek perdagangan manusia di Eropa terutama  yang banyak menimpa gadis gadis usia belia dari Eropa Timur yang tertipu dengan iming iming pekerjaan dan penghidupan yang lebih layak di Eropa Barat.

Beragam cara ditawarkan oleh para Trafficker untuk merayu mereka dan ternyata semua janji manis hanya berujung pada derita yang tiada akhir , kisah yang sungguh memilukan hati hingga anda berpikir apa benar ada kisah hidup yang demikian benar benar terjadi dalam kehidupan di alam nyata ?

trafHal tersebut kami ketahui dari film dokumenter yang dibuat dengan mendasari kisah nyata para wanita korban trafficking yang selamat , mulai dari cara perekrutan , perlakuan dan siksaan yang diterima, bagaimana tempat tinggal mereka, cara mereka bekerja, siksaan yang diterima kalau tidak mengikuti kemauan mucikari hingga kiriman potongan tangan anak kecil milik anak salah seorang korban sebagai bentuk ancaman dan peringatan bagi siapa saja yang berani melawan atau mencoba melarikan diri dari sindikat tersebut.

Atau bila anda penasaran ingin tahu lebih jauh lagi tentang bagaimana mengenaskannya kisah nyat para wanita yang menjadi korban tersebut dapat membacanya di blognya bangaip salah seorang bloger faforit saya dengan salah satu tulisaannya : Tentang Perburuan Wanita (Sepuluh – Kereta Menuju Poznan)

Salah satu materi yang diajarkan adalah bagaimana teknik interogasi dengan korbannya seorang anak anak. Ketika topik ini disampaikan maka teknik para dosen adalah dengan memberikan sedikit pengantar kemudian melemparkan topik  dan selanjutnya kami dibagi menjadi dua tim dengan pertanyaan yag sama, ” Bagaimanakah teknik yang ideal untuk melaksanakan pemeriksaan terhadap anak sebagai korban ?”

Selanjutnya masing masing kelompok menunjuk perwakilan untuk memaparkan hasil diskusinya dan kemudian dibahas bersama dan diambil kesimpulan apa saja jawaban yang sesuai dengan materi dari dosen.

Hal yang sangat menarik adalah ketika dosen melemparkan pertanyaan , ” Seandainya anda memeriksa anak sebagai korban tindakan seksual , apakah si anak harus didampingi oleh orang tuanya atau keluarga tempat dimana ia tinggal?”. Jawaban kami semua adalah , ” sebaiknya didampingi!”. Dan ternyata jawaban kami semua adalah salah besar saudara saudara sekalian.

Venneke dosen kami seorang polisi wanita dari kepolisian Belanda dengan pengalaman belasan tahun di bidang ini mengatakan “sebaiknya TIDAK” , mengapa ?

Karena bisa saja sang ayah ataupun keluarga yang mengasuhnya adalah sang pelaku yang dicari cari, sehingga anak akan terlihat takut dan ,makin tidak mau berbicara. Hal yang sungguh tidak pernah terlintas di benak kami semua ; tapi ternyata dari berbagai kasus yang ada hal tersebut sungguh benar benar terjadi.

Beberapa poin penting yang disampaikan tentang teknik pemeriksaan anak antara lain :

  1. Menyiapkan ruang pemeriksaan khusus anak dengan nuansa yang khas anak anak seperti ada boneka,mobil mobilan,papan tulis,alat musik ,dll dengan demikian sang anak merasa nyaman sehingga kesan sedang diinterogasi tidak terlihat sama sekali.
  2. Hal kedua yang tidak kalah pentingnya adalah pemeriksa mampu mendapatkan kepercayan sang anak hingga ia mau bicara.
  3. Pemeriksa haruslah merupakan personil yang terlatih atau minimal pernah mendapatkan pelatihan tentang psikologi anak, sehingga ia paham betul bagaimana membuat si anak merasa nyaman dan mau memberikan keterangan.
  4. Sikap yang bersahabat dan tulus , karena anak anak secara alamiah mempunyai naluri yang tinggi untuk menilai seseorang benar benar jujur atau hanya berpura pura.
  5. Anak anak cepat bosan dan lelah sehingga pemeriksa harus pandai membaca situasi seperti misalnya mengajak sang anak untuk bermain main dan kemudian pelan pelan menggiring kembali ke materi pemeriksaan.

Polri sendiri sudah menyikapi hal ini sejak dulu dengan membentuk suatu unit khusus di reskrim yang dinamakan unit PPA ( Pelayanan Perempuan dan Anak ” berikut piranti lunaknya, hal ini pernah saya muat dalam postingan saya terdahulu di Blog ini dengan judul Perkap NO : 10 TAHUN 2007 tentang unit PPA.

28/02/2014 - Posted by | Kedinasan

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: