MATA HATI

deru suara hati

PAMALI alias PANTANG


Pamali….. kata ini berasal dari bahasa sunda yang artinya pantang atau tidak baik untuk dilakukan. Sejak saya kecil hingga sudah tua bangka seperti ini ( emang sudah tua looo !!!!) sudah jutaan kali saya mendengar kata ini diucapkan termasuk pada hari Jumat yang lalu saat saya dan beberapa orang sahabat terlibat dalam obrolan santai sehabis menikmati ikan bakar yang seuuudapp sekali di suatu restoran di pinggir pantai.

Teman saya kita sebut saja namanya Pak Anu yang menjabat sebahai Kepala suatu Badan di pemerintahan bercerita tentang mengapa dalam sistem masyarakat adat Bali tidak mengenal warisan kepada anak perempuan.

Pak Anu menjelaskan bahwa di masyarakat Bali anak perempuan ketika nanti menikah akan diajak keluar / dibawa oleh sang suami dan sudah ada yang mengurusi, dengan demikian tidak perlu lagi diberi warisan karena sudah ada yang menanggung.

Untuk lebih mengesahkan lagi maka dalam rentetan acara perkawinan ketika si anak perempuan akan menikah , akan diadakan suatu upacara diman pihak perempuan pamit dan bersembahyang kepada leluhurnya untuk terakhir kali. Karena setelah upacara pamitan tersebut pihak perempuan akan mengikuti keluarga suami serta menyembahyangi leluhur dari pihak suami bukan lagi kepada keluarga besarnya yang dulu.

Dan selanjutnya ceritapun bergulir dari beragam budaya yang unik di Indonesia hingga ke masalah pantangan atau pamali atau saru dalam suatu adat istiadat. Pada awalnya saya bercerita tentang bentuk pintu pada rumah adat Batak Toba Samosir yang bentuknya kecil dan rendah atau sekitar 2 x 1.5 meter. Sehingga siapapun yang masuk mau tidak mau terpaksa harus menunduk.

Ternyata filosofi yang terkandung di dalamnya sangat sederhana sekali , dengan pintu yang rendah tersebut maka secara tidak langsung setiap tamu yang masuk harus membungkuk dan itu adalah pertanda bahwa sang tamu memberikan penghormatan atau menghormati si empunya rumah.

Kembali tentang pamali tadi ,semua pasti sudah sering dengar kalimat ini :

” Jangan nyapu malam malam , pantang kata orang tua dulu ” bagi saya hal tersebut hanyalah sebuah larangan untuk tidak menyapu pada waktu malam karena gelap sehingga hasilnya tidak akan bersih apalagi jaman dulu belum ada lampu apa lagi listrik he…he……., bukannya kalau nyapu malam akan membawa nasib buruk !

” Tidak baik menikahkan anak dua kali dalam setahun…..nanti rumah tangganya nggak rukun ” , apa benar demikian ? Tapi dibalik itu sebenarnya orang tua jaman dulu mengajarkan kita untuk berhemat , karena untuk membiayai pernikahan dua kali dalam setahun jelas boros mas bro…….!!! Kalau oarang kaya sih gak masalah , tapi kalau kere………..? Cuma buat rentenri pesta pora aja…

” Jangan duduk di depan pintu…. , pamali….nanti nolak rejeki !” , hal ini secara logika sebenarnya dapat kita artikan bahwa kalau kita duduk di muka pintu akan bikin orang sussah untuk keluar masuk, so simple hah……..

Demikialah cara orang tua jaman dulu mengajarkan kepada kita suatu kebaikan dengan sedikit ancaman melalui kata kata “PAMALI , PANTANG…..NANTI TIDAK BAIK ,NANTI BISA SIAL , dll “. Tidak ada maksud jelek hanya sebagai suatu cara bagi kita untuk membiasakan diri dalam bertingkah laku yang baik.

Salam orang jadul….

Ditulis di ruangan saya untuk dibaca dimana saja.

28/01/2014 - Posted by | Bebas

1 Comment »

  1. Suka dengan postingan nya mas.. hanya Allah SWT yg menentukan. saya juga akan melangsungkan pernikahan di tahun ini,karena tidak ada yg mau mengalah, karena umur kakak calon suami saya sdh sgt cukup mendukung mereka sdh melangsungkan pernikahan 4 bulan yg lalu.. dan adik suami saya tidak mau mengalah juga ingin di tahun ini, dikarenakan calon suami tidak mau dilangkah akhirnya kami, kakak dan adik calon suami saya semua menikah di tahun ini..bahkan 3 kali pernikahan di tahun ini.. Sebenarnya ada rasa khawatir, tp saya jg tidak percaya dengan mitos seperti ini, mau bagaimana lagi, hanya Allah SWT yg menentukan segalanya… hanya bisa berdoa Mohon pada Allah semoga tidak ada halangan rintangan juga hal buruk terjadi pada kami, bahagia sejahtera aman sentosa…

    Comment by Eka Setiawati | 18/08/2016 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: