MATA HATI

deru suara hati

Dua Ibu


dua ibu 2Sudah menjadi hal biasa bagi saya sebagai anggota Polri untuk tetap berdinas bahkan saat di Hari lebaran, termasuk Lebaran tahun ini. Namun saya juga bisa mencermati bahwa walaupun kami sudah masuk kantor ,sementara instansi lain masih liburan maka otomatis administrasi surat menyurat intensitasnya sangat minim demikian juga dengan dinamisasi kegiatan opsnal di lapangan. Fokus paling utama hanyalah memantau Pos Pengamana yang didirikan dalam rangka pengamanan arus mudik . Namun Binjai bukan Jawa sehingga kami disini tidak mengenal istilah kemacetan yang panjang dan mengular.

Untuk mengisi waktu luang saya manfaatkan dengan membaca, terutama membaca novel yang memang sudah menjadi kegemaran saya sejak dulu. Novel berjudul “Dua Ibu” karangan Arswendo Atmowiloto ini sebenarnya sudah saya beli sejak 2 – 3 bulan yang lalu namun baru pada kesempatan ini baru bisa saya baca. Dan ajaibnya begitu membuka halaman pertama , maka saya seperti tersedot oleh kumparan magnet yang sangat kuathingga tangan saya seolah tidak mau lepas dari cover buku tersebut.

Walaupun mata ini sudah demikian penat , tapi jalinan cerita yang terus bersambung seolah terus memanggil saya untuk tetap  membaca hingga halaman terakhir.Walhasil sejak mulai membaca jam 22.00 hingga pukul 01.30 lewat tengah malam novel setebal 304 halaman tersebut tuntas saya baca.

Novel ini berseting tahun 60 – an di kota Solo yang mengisahkan perjuangan seorang IBU yang membesarkan 8 orang anaknya. belakangan kita akan mengetahui bahwa ternyata tidak semua anak yang dirawat dan dibesarkan oleh sang IBU adalah anak kandungnya. Berlatar belakang budaya Jawa yang sangat kental dan kuat Mas Wendo mengisahkan bagaimana seorang IBU dan PEREMPUAN pada jaman itu bersikap dan bertingkah laku.

Terus terang novel in juga memberikan pencerahan pada saya tentang makna dan besarnya kasih sayang seorang ibu yang bukan hanya telah bersusah payah mengandung dan melahirkan tapi juga suka duka membesarkan anak dan menanamkan nilai nilai yang mulia sebagai bekal anak merengkuh kehidupan selanjutnya. Bagaimana IBU membesarkan anak dengan satu pemahaman bahwa anak tersebut adalah tanggung jawabnya tanpa memperdulikan dari rahim siapa anak tersebut terlahir, sungguh luar biasa.

Kemiskinan melingkupi hampir keseluruhan buku ini, namun itulah kenyataan dan  melalui bingkai pandangan tersebut kita diajak memahami dan merasakan penderitaan,kesabaran, pengorbanan,kebijaksanaana dan  kejuangan seorang ibu.

Hal yang membuat novel ini begitu nikmat adalah bahasa yang digunakan sederhana dan tidak membuat kita mengerutkan kening dalam memahami pesan yang ingin disampaika oleh penulis. Begitu kita membaca satu kalimat maka seketika itu juga kita dapat memehami dengan mudah maksudnya.

Dibagi dalam bab yang tidak terlalu panjang sehingga kita tidak bosan membacanya ,tapi juag tidak merasa kalau bab tersebut terlalu tipis dan tiba tiba kita sampai ke penghujung bab. Setiap bab mengisahkan suatu peristiwa dalam keluarga “Ibu” yang menjadi tokoh sentral dan kata tersebut akan kita temui hampir dalam setiap halaman dari buku ini.

Bahasanya yang renyah dan gampang dicerna serta diselingi dengan humor yang tersamar dan membuat saya tertawa terpingkal pingkal tanpa sadar. Belum lagi ketika Mas Wendo menyelipkan sesuatu yang berbau porno dipandang dari kacamata anak berusia 13 tahun tapi kok sama sekali tidak terkesan vulgar,malah kesan yang saya tangkap malah bersifat natural dan memang tidak bisa dilepaskan dari jalinan cerita yang ada.

Sebagai efek samping yang sangat nyata adalah saat saya baru menyelesaikan beberapa Bab dari buku ini telah berhasil mendorong saya untuk menelpon ibu  di rumah . Saya tanyakan bagaimana kabarnya dan mendoakan semoga beliau selalu sehat waalfiat, tak lupa doa restunya selalu kunantikan. Dan seperti biasa jawabn ibuku juga simpel, ” Nak tiap malam ibumu selalu berdoa dan tahjud memohon kepada Allah semoga semua keinginanmu terwujud dan selalu dalam lindungan NYA”. Sungguh kata kata yang singkat dan padat tapi sudah cukup membasuh jiwa dan jadi bekal selama beberapa bulan rasa optimis karena sugesti dan doa beliau.

Bagi siapa saja yang masih memiliki Ibu , ada baiknya membaca buku ini sambil kita renungkan apa saja yang sudah kita lakukan untuk membahagiakan dan membanggakannya, jika belum  maka selagi Ibu kita masih hidup manfaatkanlah sebaik baiknya. Jangan sampai menyesal dan berlinang air mata ketika beliau telah pergi dan kita belum sempat berbuat apa apa.

Saya jadi teringat lagu Iwan Fals yang berjudul IBU

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah

Seperti udara… kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…ibu…ibu
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…ibu…ibu….

Medan, 25 September 2009]

Teruntuk Ibu tercinta di Jambi

25/09/2009 - Posted by | Buku

1 Comment »

  1. selamat menjelang magrib,beraktifitas mas bro , Mkcih banyak informasinya saya jadi banyak wawasan setelah mbaca baca tulisan anda yang di tulis di situs ini salam kenal

    Comment by sutopo.sasuke@gmail.com | 22/12/2015 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: