MATA HATI

deru suara hati

Catatan Harian Seorang Polisi (Renew)


Polantas

Setelah sholat subuh aku langsung bersiap untuk berangkat melaksanakan apel pagi dengan terlebih dulu pamit pada istriku , kemudian membuka pintu kamar kedua anakku yang masih terlelap untuk mencium keningnya . Suatu rutinitas  yang paling kubenci karena tidak sempat  berbicara dan bercanda dengan anak anakku yang masih kecil namun panggilan tugas haruslah ditunaikan.

Langit masih berwarna gelap dengan beberapa bintang yang masih tampak walaupun mulai kalah dengan semburat jingga sang surya, udara terasa sejuk sekali menyegarkan rongga di dada sekaligus memberikan energi baru untuk memulai hari ini.

Tepat pukul 05.45 aku sudah tiba di pelataran parkir Swalayan Suzuya tempat kami personil Lalu Lintas melaksanakan apel setiap paginya tepat pukul 06.00 untuk kemudian selanjutnya bergerak menempati pos masing masing tempat kami melaksanakan pengaturan lalu lintas yang dalam istilah kami dikenal dengan “Pos Padat Pagi dan Pos Padat Sore”.

Tepat pukul 06.30 aku sudah berdiri tegak lurus di perempatan yang sudah menjadi pos tetapku selama hampir 3 tahun terakhir ini. Kepadatannya tidak pernah berkurang namun makin bertambah setiap tahunnya menurut pengamatanku .

Selama hampir 3 jam aku harus berdiri disana sampai pukul 9 nanti dan baru kemudian dapat beristirahat sejenak karena pada jam tersebut lalu lintas sudah mulai lancar dan hanya sesekali aku harus keluar dari pos untuk menertibkan angkot atau bus yang berhenti sembarangan atau membantu anak anak dan orang tua menyeberang jalan.

Selanjutnya tepat pukul 12.00 aku sudah harus siap lagi berdiri mengatur jalan hingga pukul 14.00 dan terakhir nanti pukul 16.00 sampai 18.00 sudah siap lagi mengantisipasi jam pulang kantor dan sekolah.

Satu jam pertama saat udara masih segar tidaklah sulit untuk melaksanakan pengaturan dengan memberikan aba aba gerakan tangan yang tegas,bersemangat disertai hembusan peluit yang cukup kencang.

Tapi setelah 2 jam lebih, maka lambat namun pasti keletihan akan datang menghampiri, belum lagi ditimpali dengan sikap para pengguna jalan yang bertindak semaunya dengan satu pemikiran yang sama yaitu tiba di tempat tujuan secepat cepatnya.

Sering aku berpikir apa mereka lupa kalau justru dengan ngebut, memacu kendaraan secepat cepatnya, berusaha mengambil setiap celah yang kosong di jalan malah akan mendekatkan mereka pada kecelakaan lalu lintas bukannya sampai di tujuan dengan selamat.

Itu belum ditambah bagaimana bila seandainya terjadi kecelakaan atau serempetan yang otomatis akan menyita waktu yang lebih banyak lagi untuk berdebat antara pihak yang terlibat ,plus membuat jalanan semakin macet yang pada akhirnya akibat ulah segelintir pengguna jalan yang demikian mangakibatkan “BANYAK ORANG” dengan sukses terlambat tiba di kantornya dan membuat mereka sudah kehabisan energi karena mengumpat serta menunggu jauh sebelum mereka tiba di kantor dan mulai bekerja untuk memulai hari.

Mungkin masyarakat sama sekali tidak paham dan menyadari , bahwa “sumbangsihku yang kecil” dalam mengatur kelancaran lalulintas sehingga mengantarkan pengguna jalan tiba dengan selamat dan tepat waktu sampai tujuan sesungguhnya sangat berarti.

Tahukah mereka bahwa karena itu membuat mereka berhasil dengan sukses mendapatkan  kontrak ratusan juta atau miliaran rupiah .

Karena lalu lintas lancar maka pebisnis yang mengejar waktu dapat menaiki pesawatnya on time dan sukses mendapatkan investasi jutaan dolar.

Atau karena pekerjaanku maka rapat yang menentukan nasib dan hidup orang banyak dapat menghasilkan keputusan yang maksimal buat masa depan mereka,dll.

“PERNAHKAH MEREKA MENYADARINYA ?”

Saat kelelahan menyapa sementara kepadatan lalu lintas tidak pernah berkurang, ditambah lagi terik matahari yang mulai menyengat bukanlah sebuah situasi yang menyenangkan bagi petugas lapangan seperti diriku.

Jujur harus kuakui bahwa dalam kondisi seperti diatas emosi sangat gampang tersulut,apalagi bila ada pengguna jalan yang sudah diberi tahu dengan peluit atau gerakan tangan namun tetap tidak memtuhi aturan. Dan harap diingat pengguna jalan yang punya tabiat seperti itu bukan cuma satu tapi banyak sekali.

Kalau cuma 2 atau 3 orang yang berlaku demikian mungkin aku masih bisa sabar tapi kalau sudah berulang ulang siapa juga yang bisa tahan dan terpaksa harus ditilang atau diberi tindakan tegas.

Apa mereka lupa kalau aku juga manusia bukan robot yang diletakkan di tengah jalan dan diprogram khusus untuk mengatur jalan tanpa perlu diberi makan dan minum serta tanpa emosi sama sekali.

Aku jadi teringat tulisan dari Prof. Satjipto Rahardjo seorang guru besar di UNDIP yang sering membuat tulisan tentang polisi di berbagai surat kabar nasional. Beliau menyatakan bahwa menjadi seorang polisi itu haruslah memiliki HO2 yang berarti harus punya HATI,OTAK dan OTOT.

Punya HATI berarti bahwa dalam menegakkan hukum memang diperlukan ketegasan namun haruslah tetap manusiawi dengan melihat bagaimana situasi dan kondisi dari pelaku kejahatan atau pelanggar hukum.

OTOT diperlukan dalam situasi yang memang mengisyaratkan petugas bertindak tegas untuk mencegah situasi menjadi lebih buruk dan merugikan masyrakat sekitar.

OTAK mengisyaratkan seorang anggota Polri untu mampu berpikir jernih dalam setiap situasi, cermat dalam melihat suatu permasalahan serta dapat mengambil keputusan secara cepat mengingat polisi selalu dihadapkan pada permasalahan yang nyata dan memerlukan tindakan penanganan saat itu juga.

Kalau sudah berurusan dengan pelanggar lalu lintas aku sudah harus siap mendengarkan alasan klasik yang akan selalu dilantunkan seperti lagu lama yang berulang kembali , “Terburu buru, harus segera ke rumah sakit, tidak melihat lampu sudah berwarna merah, pengendara di depan saya juga jalan,atau saya hrus ujian pak”.

Belum lagi pada saat diberikan slip tilang dan ditawarkan apakah mau dibayar ditempat atau mengikuti peresidangan maka biasanya jawaban yang terdengar adalah “Bagaimana kalau kita damai saja Pak?” .

Jujur saja tawaran ini sangat menggiurkan dan sering membuatku tergoda untuk mengikuti ajakan pelanggar dan menerima uang sogokan. Hal seperti inilah yang sering membuat citra POlisi bertambah jelek dan juga menjadi potret buram penegakan hukum oleh Polri terutama di bidang lalu lintas.

Aku sering bertanya pada diri sendiri, kalu menerima uang sogokan adalah salah selanjutnya bagaiman dengan posisi masyarakat yang memberi dan menawarkan sogokan tersebut?

Terus terang dulu aku beberapa kali tergoda dan melakukan perbuatan memalukan tersebut namun tidak pernah kuulangi lagi karena aku telah meniatkan diri untuk menjadi seorang Polisi yang baik. Kalau memang masih ada rekan seprofesiku yang masih berbuat minimal tindakanku bisa memberi sedikit arti untuk menetralisirnya.

Mengatur lalu lintas saat ini ,dengan kondisi pertambahan jumlah kendaraan yang demikian pesatnya setiap tahun namun tidak diimbangi dengan penambahan ruas jalan sudah barang tentu bukanlah suatu tugas yang mudah.

Karena otomatis kemacetan akan menjadi suatu hal yang tidak terhindarkan sehingga kehadiran petugas lalu lintas dan rambu rambu jalan tidak akan banyak berarti dalam menyelesaikan masalah kemacetan namun hanya pada sekedar upaya untuk mengurangi kemacetan. Ditambah lagi dengan tingkat ketaatan masyarakat kita yang sangat rendah pada hukum. Sudah jelas jelas lampu pengatur berwarna merah masih juga diterobos dengan alasan tidak ada polisi.

Ketika mengahadapi situasi kemacetan saya sering teringat dengan perkataan mantan komandan saya yang sekarang sudah pensiun, ” Jadi Polisi itu serba salah, ketika jalanan macet dan Polisi hadir maka masyarakat akan berkata bahwa wajar aja ada Polisi karena memang sedang macet. Tetapi kalau masih juga tetap macet maka masyarakat akan bilang untuk apa ada Polisi karena tidak bisa membuat lalulintas menjadi lancar”

Kapan benarnya Pak Polisi ?

Tanpa terasa waktu sudah berlalu begitu cepat, malam sudah menggantung di langit, kulirik arlojiku tepat pukul 18.30 yang berarti aku masih harus segera apel ke kantor dan kemudian bisa kembali kerumah untuk berkumpul bersama keluarga.

Berangkat meninggalkan rumah masih gelap dan kembali kerumahpun ternyata langit juga belum berubah masih tetap gelap juga, doaku semoga anak anakku tercinta belum tidur sehingga aku masih bisa bercengkrama ,bersenda gurau dengan mereka dan menanyakan bagaimana pelajaran sekolahnya hari ini.

Terimakasih ya ALLAH semoga tugasku yang sedikit ini menjadi berarti dan tidak sia sia serta dapat menjadi amal ibadah  dihadapan MU ,amin ya robbal alamin.

“Dirgahayu Kepolisian Negara Republik Indonesia ke 68” tanggal 1 Juli 2014 , semoga kami bisa menjadi pelindung,pengayom , pelayan dan penolong   serta menjadi Polisi yang profesional guna memenuhi tuntutan dan harapan  masyarakat

“VIVA POLRI”

 

Diedit kembali khusus untuk HARI BHAYANGKARA 1 Juli 2014

 

30/06/2009 - Posted by | Kedinasan

7 Comments »

  1. Jangan menyerah pak.
    Semoga selalu dibimbing oleh-Nya
    dan dimudahkan urusannya🙂

    Comment by zidni | 06/01/2010 | Reply

  2. Kayaknya penggemar De’massive nih…setuju banget untuk tidak menyerah, wajib berusaha selagi mampu dan juga sambil berdoa, trims.

    Comment by harry | 07/01/2010 | Reply

  3. Itulah tugas mulia yg kita jalankan utk kepentingan yg lebih besar lagi yaitu negara dan bangsa indonesia yg kits cintai…..Dirgahayu Polri ke 68 smoga tetap jaya….once and forever 84

    Comment by Halim Majali | 30/06/2014 | Reply

  4. Mata hati,,,,hati nurani….bila kita berada di mata air..jgn lupa dg teman yg selalu merasa air mata melulu….

    Comment by Halim Majali | 30/06/2014 | Reply

    • Not only diamond , but friends are forever too

      Comment by harry | 01/07/2014 | Reply

  5. Semoga Allah melipatgandakan balasan pahala para polisi..!!!

    Semoga masyarakat menjadi sadar & tertib thdp hukum guna kepentingan bersama!

    Semoga negara memberikan kesejahteraan yg layak buat para polisi!

    Comment by Hery Susanto | 01/07/2014 | Reply

    • Yang pasti Gusti Allah tidak pernah tidur , Insya Allah doa kita akan terkabul.

      Comment by harry | 01/07/2014 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: