MATA HATI

deru suara hati

Jepang dalam Kenangan


DSC01780

Tanpa terasa sudah 2 tahun yang lalu saya mengunjungi Jepang dalam rangka mengikuti program Studi Banding Polri tentang KOBAN. Walaupun sudah berlalu beberapa tahun yang lewat namun kenangan indah selama hampir 2 bulan di sana terus melekat di hati, ingat akan keramahan penduduknya, ingat makanannya yang kurang begitu cocok di lidah saya juga kemoderenannya yang buat kita orang Indonesia terkagum kagum.

Bagi saya keberangkatan ke Jepang merupakan pengelaman keluar negeri yang ke dua kali setelah sebelumnya pada tahun 1999 saya berangkat ke Thailand selama 2 mingggu mengikuti kursus tentang HAKI di ILEA BANGKOK, tepat disaat di negara kita tengah menjadi sorotan Internasional tentang jajak pendapat di Timor Timor yang berakhir dengan lepasnya Tim Tim dari pangkuan Ibu Pertiwi.

Untuk dapat melewati tes untuk dapat berangkat ke Jepang juga bukanlah merupakan hal yang mudah, sebelumnya tahun 2006 saya sempat mengikuti seleksi yang sama utk bergabung dalam JICA ( Japan International Coorporation Agency )group VI dengan hasil hanya menjadi peserta cadangan dari 24 orang yang terpilih. Akibatnya saya tambah penasaran dan di tahun 2007 saya kembali mengikuti tes dan alhamdulillah terpilih menjadi kokntingen JICA group VII.

Tugas belajar di Jepang sungguh membuka mata dan pikiran saya tentang sistem kepolisian Jepang yang dikenal dengan istilah NPA ( National Police Agency ). Kepolisian Nasional Jepang berada di bawah Kementerian Dalam Negeri dan bertanggung jawab secara penuh tentang masalah kemanan dalam negeri Jepang serta pemeliharaan kamtibmas masyarakatnya.

DSC01782

Kepolisian Jepang dibagi menurut Perfektur atau propinsi dan dikepalai oleh seorang Kepala Kepolisian Perfektur ( Kapolda ) dan total terdapat 47 perfektur di seluruh wilayah Jepang. Kalau ada istilah orang Jepang workholic atau gila kerja memang demikianlah kenyataan yang saya saksikan sendiri. Sifat ini terbentuk karena kerja keras adalah merupakan suatu budaya dan kebiasaan yang mengakar demikian juga dengan budaye tepat waktunya. Mereka akan sangat malu kalau sampai terlambat datang atau hadir dalam suatu kegiatan sesuai jadwal yang ditentukan.

Masalah ketepatan waktu benar benar hal yang sangat ditekankan oleh Mabes Polri dalam pembekalan kepada kami sebelum berangkat, dan alhamdulillah para supervisor kami di Jepang sangat puas pada kami dan menyatakan salut mengetahui bahwa orang Indonesia juga tepat waktu seperti mereka ( mereka tidak tahu kalau kita mati matian demi mengharumkan nama bangsa dan negara ha….ha….ha….)

Selama 1 bulan saya dan enam orang teman magang di Perfektour Shizuoka, kota ini merupakan kota dimana Gunung Fuji yang merupakan gunung tertinggi di Jepang terletak. Shizuoka merupakan kota kecil namun tetap saja sebagaimana kota lainnya di Jepang biarpun kecil namun sangat moderen , teratur dan tertib.

DSC01974

Tahukah anda bahwa dimanapun diseluruh Jepang akan kita temukan jalur khusus orang buta di pinggir jalan rayanya yang ditandai dengan garis kuning selebar kurang lebih 30 cm dengan permukaanya berupa benjolan kasar sehingga akan terasa saat diinjak oleh para penyandang tuna netra.

Demikian juga dengan fasilitas toliet umum baik di tempat publik maupun di kereta api selalu tersedia tempat khusus bagi orang cacat, kapan ya negara kita bisa demikian? Hal lain yang manarik adalah Jepang merupakan negara di dunia dimana vending machine ( mesin otomatis yang menjual minuman, rokok dan majalah ) terbanyak ditemukan dimuka bumi. Bahkan sampai ke desa di pegununganpun mesin ini akan kita temukan.

Dalam berbagai survey yang diadakan setiap tahun tentang lembaga lembaga pemerintahan di Jepang yang sangat dapat dipercaya selama bertahun tahun masyarakat Jepang selalu menyatakan bahwa Kepolisian Jepang merupakan lembaga yang sangat dapat dipercaya……sungguh hal yang sangat membanggakan sekaligus juga menyedihkan mengingat bagaimana tingkat kepercayaan publik terhadap Polri di Indonesia.

Kesimpulan yang dapat saya ambil mengapa mereka demikian adalah :
1. Disiplin sebagai pondasi utama.
2. Profesioanalisme.
3. Budaya malu untuk berbuat salah.
4. Menyadari dari awal bahwa polisi ada untuk melayani masyarakat
5. Etos kerja yang sangat tinggi

Bagi saya masalah peralatan pendukung yang moderen, gaji serta anggaran yang luar biasa banyak bukanlah hal yang utama. Ketiga hal tadi memang penting namun tanpa diawaki oleh petugas polisi yang memiliki 5 sifat diatas maka peralatan moderen, anggaran dan gaji tidak akan berarti apa – apa.Untuk itulah mengapa kami belajar ke sana dengan harapan bisa mengubah wajah Polri yang carut marut.

Jujur saya harus menyatakan bahwa kondisi Polri saat ini masih jauh dari harapan, namun kami selaku generasi muda Polri tidak boleh menyerah dan putus asa dengan situasi yang ada justru ini menjadi tantangan untuk bisa berbuat lebih baik.Bahkan saat ini perubahan pelayanan dan perilaku Polri dapat mulai dirasakan masyarakat kita.

Kritik dan masukan dari masyarakat sangat kami harapkan, saya pribadi mengibaratkan kritik seperti jamu…makin pahit maka makin manjur, makin pedes kririknya maka akan makin bagus buat kami. Satu hal yang ingin saya tambahkan bahwa Polri adalah bagian dari masayarakat maka kondisi Polri saaat ini sedikit banyak juga merupakan cerminan dari kondisi masyarakat Indonesia.

VIVA POLRI.

08/06/2009 - Posted by | Kedinasan

2 Comments »

  1. Tetap semangat pak🙂

    Comment by zidni | 06/01/2010 | Reply

  2. Always…… ucapan yang sama dan sering sering tengok Blog kita ya , juga ajak yang lainnya.

    Comment by harry | 07/01/2010 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: