Marhaban ya Ramadhan , engkau datang lagi ke pintuku. Tidak pernah terlambat atau terlalu cepat menghampiri. Engkau selalu hadir tepat waktu tak bergeser barang sedetikpun. Sebuah hadis mengatakan , “ Barang siapa menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dengan gembira , maka diharamkan baginya api neraka “.

Aku tersentak bagai kesambar petir di siang bolong , timbul pertanyaan yang kemudian menghentakkan hatiku membuat jantungku serasa berhenti , “ Sudahkah kegembiraan itu bersemi di hati ini ?” . Agar kemudian getaran kegembiraan itu dapat kualirkan ke seluruh pembuluh darah di tubuh ini. Ataukah hati ini memang sedemikian kering kerontang hingga tak dapat lagi tersentuh oleh panggilan MU yang agung ya ALLAH.

Dua minggu terakhir menjelang Ramadhan , dalam setiap khotbah Jumat khatib selalu mengingatkan akan datangnya Ramadhan serta keutamaannya dan bagaimana kita harus bersikap untuk menyambut bulan yang penuh ampunan ini. Sejak itu pula aku mulai menata diri dan menata hati ini untuk turut bersiap menyambut kedatangannya. Terutama untuk belajar bergembira dalam menjalankan ibadah puasa.

Jujur saja , sampai saat ini yang selalu terlintas dalam benak kita juga saya saat puasa tiba adalah tidak bisa makan dan minum dengan bebas serta menahan haus dan lapar hingga waktunya tiba. Terbayang godaan yang sering muncul saat melihat makanan atau orang sedang minum dan itu harus disikapi dengan bijak karena justru disanalah letak hakikat puasa yaitu untuk merasakan haus dan lapar yang selalu dialami oleh saudara saudara kita yang kurang beruntung dan harus selalu berpuasa bukan hanya sebulan tapi mungkin dilakukan sepanjang tahun karena ketidakmampuan mereka.

Namun dengan makin banyak mendengarkan nasehat, kemudian membaca makin lama makin terbuka mata hati ini bahwa sungguh ajakan untuk “bergembira” menyambut Ramadhan bukanlah suatu pepesan kosong tapi adalah suatu kenyataan namun perlu pemahaman yang baik serta keyakinan iman bahwa keutamaan bulan suci ini sungguh sangat sangat  luar biasa.

Saya kira saya tidak perlu bicara panjang lebar tentang keutamaan dalam puasa seperti dilipatgandakannya pahala kita, kemakbulan doa kita dan juga malam Lailatul Qadar. Tapi Saya ingin mengajak kita semua terutama diri saya sendiri untuk mengikhlaskan hati dan berusaha dengan keras untuk mencicipi nikmatnya Ramadhan . Dalam kaca mata keimanan  saya yang sangat sempit ini hanya dengan itulah kita dapat merasakan “kegembiraan” menyambut datangnya bulan suci. Alhamdulillah tiga hari puasa telah terlewati dan sungguh kegembiraan itu melahirkan kenikmatan yang tiada tara dan belum pernah kurasakan sebelumnya dalam berpuasa.

Ya Allah aku datang mengetuk ke pintumu , hambamu yang hina ini memohon agar kau selalu meniatkan hati ini untuk meningkatkan amal ibadah kepada MU , jadikanlah Ramadhan ini Ramadhan terindah dan terbaik yang kujalani. Walau ini belum usai namun ijinkanlah aku dapat kembali menemui Ramadhan tahun yang akan datang untuk menjalaninya dengan lebih baik lagi, amien.

Pematang Siantar,      Agustus 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.