Kalau anda  mengaku Bangsa Indonesia dan kalau anda juga mengaku pecinta sepak bola lebih khusus lagi Tim Nasional Indonesia, maka dapat saya pastikan bahwa anda juga turut menangis bersama saya tadi malam. Kekalahan yang sangat jauh dari harapan ditengah berbagai prediksi yang muncul setelah melihat penampilan Timnas kita yang begitu menjanjikan. Harapan boleh saja terbang setinggi tingginya tapi kenyataan yang ada harus kita terima dengan lapang dada dan jiwa yang besar.

Biasanya saya menonton pertandingan ini dengan khusuk di kamar sambil berharap harap cemas , tapi kali ini karena harus menememani tamu dari kantor pusat yang datang mau tidak mau ritual menonton ini harus dinomor duakan. Alhasil acara makan malamnya tidak konsen , baik pelayan maupun pengunjung Rumah Makan Beringin tempak kami santap malam secara kompak matanya tertuju ke TV layar datar yang disediakan oleh Rumah MakanHal  yang saya dapatkan sepulang makan adalah puas karena perut kenyang dan tidak puas karena Timnas kebanggaan Indonesia kalah dengan skor 3- 0.

Sebelum tidur sambil memilih milih tayangan di Indovision tanpa sengaja saya memilih channel HBO yang menayangkan filem dokumenter seputar pertandingan tinju klasik antara Muhammad Ali dan Joe Frazier yang berlangsung hampir 35 tahun yang lalu tepatnya di tahun 1975.

Pertandingan antara kedua Maestro tinju ini oleh ESPN sebuah Label raksasa di acara  pertelevisian sebagai salah satu dari lima pertandingan / event olah raga terbesar sepanjang abad 20. Pertandingan ini dilangsungkan di Araneta Coliseum Quezon City, Metro Manila, Filipina pada tanggal 1 Oktober 1975 yang bertajuk “ Thriller in Manila “.

Pertarungan ini bukanlah pertandingan pertama antara keduanya tapi merupakan pertemuan ketiga dan juga menjadi laga terakhir  yang merubah jalan hidup keduanya sebagai petarung. Permusuhan diantara keduanya begitu kuat bahkan masih terasa hingga kini. Permusuhan ini secara tidak langsung mengingatkan saya dengan perseteruan yang terjadi diantara dua bangsa serumpun Malaysia dan Indonesia.  Perseteruan yang juga kemudian dibawa hingga ke lapangan bola , kapanpun kedua tim bertemu maka atmosfirnya selalu panas dengan berbagai isu yang melingkupinya.

Sama sama mengaku sebagai bangsa Melayu namun selalu diharu birukan dengan perselisihan tentang klaim budaya,lagu dan kesenian serta sengketa perbatasan plus masalah TKI yang tak kunjung usai. Kembali ke pertandingan tadi maka permusuhan diantara jawara tinju dunia ini juga terjadi diantara sesama petinju kulit hitam yang nenek moyangnya jelas jelas serumpun.

Sebelum pertandingan dilaksanakan Joe “The Smokin” Frazier adalah Juara bertahan kelas berat versi WBA/WBC sedangkan Muhammad Ali “The Greatest” adalah petinju tanpa gelar juara. Ali dicopot dari tampuk juara dunia kelas berat karena menolak mengikuti wajib militer di AS untuk dikirim mengikuti perang Vietnam. Suatu sikap yang menimbulkan begitu banyak pro dan kontra di Amerika saat itu dan berakhir dengan pencopotan gelar Ali serta dicabutnya lisensi bertinju Ali selama 3 tahun.

Kekosongan gelar ini kemudian diambil alih oleh Frazier hingga keduanya bertemu di Manila. Berbagai isu beredar seputar pertandingan ini. Mulai dari isu upaya Diktator Filipina Ferdinand Marcos yang sengaja memboyong duel ini ke Filipina untuk menaikkan popularitasnya ditengah konflik perang saudara yang tengah berlangsung. Untuk usaha ini setidaknya Marcos berhasil ; karena konflik terhenti selama masa masa kedatangan dan persiapan ke 2 petinju hingga duel maut ini usai.

Hal yang begitu ditonjolkan oleh filem dokumenter ini adalah panasnya atmosfer yang muncul sebelum pertandingan ini dilangsungkan. Bagaimana perang urat syaraf yang dilancarkan oleh Ali kepada Frazier mulai dari hal yang bersifat verbal hingga adu fisik sungguhan saaat keduanya diwawancarai oleh televisi.Tidak terlihat kesan sedikitpun bahwa keduanya berasal dari satu negara yang sama yaitu Amerika, seolah olah keduanya berasal dari planet yang berbeda atau kalau anak saya bilang seperti “Tom dan Jerry “

Ali menganggap Frazier bukanlah manusia dengan mengejeknya sebagai Gorila , mengejek hidung Frazier yang pesek , kupingnya yang lebar dan kulitnya yang hitam. Saat Frazier berlatih Ali sengaja mencari masalah dengan mendatangi tempat tersebut mengejeknya sampai melemparkan kursi untuk memancing emosi. Memang sudah menjadi style Ali untuk mengejek lawannya sebelum pertandingan , namun kali ini banyak pihak yang sepakat bahwa Ali memang sudah kelewatan dan kata katanya tidak pantas untuk diucapkan.

Tapi tahukah anda bahwa sebelum pertandingan di tahun 1975 ini keduanya adalah teman akrab layaknya hubungan antara Indonesia dan Malaysia di tahun tahun  tersebut ketika kedua bangsa saling berkerjasama dan membantu untuk kemajuan bersama dibidang tenaga pendidikan dan pertanian.

Frazier adalah orang yang selalu membantu Ali saat Ali kesulitan keuangan dan saat ia tidak bertinju setelah gelarnya dicabut karena menolak wajib militer. Adalah Frazier juga yang berjuang mati matian hingga ia rela menemui Presiden saat iu Nixon hanya untuk memmperjuangkan agar Ali kembali memperolehli lisensi bertinjunya.

Usaha Frazier dilakukannya  untuk menjawab tuntutan publik yang menginginkan keduanya bertemu kembali, karena keduanya belum pernah kalah serta gelar juara dunia yang disandang Frazier saat itu dianggap tidak prestise karena diraihnya dari Ali yang dicopot dari Juara Dunia.

Singkat cerita usaha tersebut berhasil dan pertandingan jadi dilangsungkan. Pertandingan berlangsung sangat alot dimana Alimenguasai 5 ronde awal hingga sempat diperkirakan laga akan berlangsung singkat , namun ronde 6 – 10 berlangsung sebaliknya dengan Ali yang menjadi bulan bulanan. Penontonpun berbalik  mendukung Frazier dengan gegap gempita .

Namun memasuki ronde 11 jalannya pertandingan berubah , walau keduanya kelihatan sudah kepayahan dan lelah namun  tidak menyurutkan tekad keduanya untuk bertarung hinga akhir. Ali terus menghujani pukulannya hingga ronde 13 namun Frazier tidak kunjung tumbang hingga menyebabkan Ali Frustasi. Saat itu Eddy Futch pelatih Frazier mengetahui bahwa anak asuhnya sudah tidak bisa melihat lagi sejak ronde 12, praktis Frazier jadi bulan bulanan Ali tanpa bisa melihat pukulan yang menghujam kebadannya, otomatis hanya naluri dan semangat sajalah yang membuatnya masih bias berdiri diatas ring.

Futch sudah menyaksikan begitu banyak petinju yang mati diatas ring karena terlalu memaksakan diri, dan  dari pengalamannya ia tahu bahwa setelah melihat hasil ronde 14 pertandingan harus dihentikan dan Frazier harus berhenti walaupun ia ngotot untuk terus bertarung dengan kondisi tidak bisa melihat lawan.

Di sudut Ali pun sebenarnya kondisi tidak jauh berbeda, Ali bahkan sudah meminta pada pelatihnya untuk  melepas sarung tinjunya , posisi duduknya sudah  pasrah dengan punggung rapat pada pojok ringdan tangan tergantung lemas di tali ring.Ketika wasit menyatakan pertandingan dihentikan pada ronde 14 dengan kemenangan TKO bagi Ali , Maka Ali langsung berdiri dan selanjutnya tumbang karena kelelahan.

Apa yang dapat dipetik dari pertandingan tadi , “ semangat pantang menyerah ” yang ditampilkan keduanya benar benar dilakoni hingga detik terakhir. Tidak ada kata menyerah sebelum bel terakhir berbunyi.

Sebagai pecinta Timnas saya hanya bisa berharap Indonesia dapat menampilkan semangat pantang menyerah tersebut pada laga terakhir di Senayan. Maju terus hingga tetes darah terakhir , kekalahan kemarin bukanlah akhir dari segalanya tapi merupakan awal dari kebangkitan pada leg kedua tanggal 29 nanti.  Kembangkan lebar sayapmu wahai Garudaku , terbanglah setinggi tingginya dengan membawa mimpi kami yang sudah diawang awang, semoga Allah meridhoi  perjuangan kita.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.