Duka Bhayangkara di Langit Hamparan Perak
23/09/2010
Gelapnya malam dini hari ( Rabu 22 September ) bertambah kelam dengan aksi brutal sekelompok orang bersenjata yang menyerang Kantor Polsek Hamparan Perak Polres Pelabuhan Belawan. Akibat serangan tersebut 3 orang Bhayangkara terbaik kami yang tengah bertugas gugur akibat tembakan senjata laras panjang yang meluluh lantakkan tubuh mereka akibat berondongan peluru.
Polsek Hamparan Perak merupakan tempat yang tidak asing bagi saya karena pada periode 2004 – 2005 saya pernah bertugas sebagai Kapolsek Medan Labuhan yang kantornya berjarak setengah jam perjalanan dari sana. Bahkan ada sebagian Desa yang masuk wilayah hukum kami yang hanya dapat dijangkau dengan melewati kantor Polsek Hamparan Perak, sungguh begitu lekat dalam ingatan suasana tempat tersebut.
Sebelumnya beberapa hari yang lewat tepatnya Minggu malam 19 September Densus 88 telah berhasil menangkap 18 pelaku yang terlibat dalam aksi terorisme dan perampokan Bank CIMB Niaga yang juga menewaskan seorang personil Polri yang saat itu tengah bertugas . Aksi penangkapan oleh Densus 88 ini meliputi 2 tempat yang salah satunya adalah di Hamparan Perak dan menewaskan 3 ( tiga ) pelaku dengan didahului oleh baku tembak dengan pelaku.
Berat dugaan aksi penyerangan Kantor Polsek tersebut sebagai aksi balas dendam dari kelompok teroris yang belum tertangkap, mereka seolah ingin menunjukkan eksistensinya bahwa mereka masih aktif dan memiliki kekuatan untuk melawan. Hasil penyidikan Polri menunjukkan bahwa kasus perampokan CIMB Niaga yg tadinya dianggap sebagai kasus kriminalitas murni , ternyata dari pengembangan kasus di Jabar yg berkaitan langsung dengan latihan teroris aceh. Sehingga kemudian dapat disimpulkan dari 2 mayat yg di temukan cawang mereka merupakan kelompok teroris dari JAT ( H dan U ) dan hasil pengembangan dari Marwan (panglima wilayah Aceh) yg berhasil ditangkap di Aceh.
Saat mata ini masih terlelap ,aku dikagetkan dengan dering ponselku yang ternyata berasal dari Abangku. ” Har hati hati ya, coba liat di TV One sekarang 3 polisi tewas diserang di Polsek ! Gua lupa polsek apa namanya tapi kamu lihat sendiri aja sekarang “. Bergegas kunyalakan televisi dan menyimak setiap detil peristiwa yang disampaikan oleh reporter lapangan seputar aksi biadab tersebut.
Masih terbayang olehku ramainya pembicaraan seputar penangkapan oleh Densus 88 beberapa hari yang lalu. Mereka menganggap Densus bertindak brutal dan malanggar HAM , Densus dianggap seperti pasukan Siluman yang datang tiba tiba dan pulang dengan menimbulkan korban dan kegemparan. Bahkan seorang anggota Dewan dengan berapi api menyudutkan aksi Densus tersebut dalam salah satu acara talkshow di stasiun TV.
Sebagai seorang anggota Polri wajar dong kalau kemudian saya juga merasa kecewa, sedikit banyak saya mengetahui suka dukanya para personil Densus yang beberapa diantaranya saya kenal dengan sangat baik. Mereka tidak bertindak gegabah tapi justru dengan cermat dan penuh perhitungan, kenapa ???
Karena mereka sadar bahwa sasaran yang mereka buru adalah sekelompok orang yang sangat berbahaya, berani mati, bersenjata dan memiliki bahan peledak yang tanpa ragu akan mereka aktifkan bila diperlukan. Sadarkah para komentator tersebut berapa korban yang telah ditimbulkan oleh aksi para teroris ini , apakah aksi tersebut bukan sebuah pelanggaran HAM ?
Tidakkah mereka melihat dengan jelas dari liputan TV bagaimana para personil Densus secara diam diam mengevakuasi masyarakat sekitar untuk pindah sebelum mereka melakukan penyerbuan, sekali lagi Mengapa ??? Karena Densus tidak ingin ada lagi masyarakat yang menjadi korban………seandainya terjadi baku tembak biarlah itu tubuh para teroris yang tercabik, atau biarlah anggota Densus yang harus mengorbankan nyawanya demi ketentraman masyarakat dan bangsa ini dari aksi terorisme.
Sungguh rasa duka itu tidak cukup hanya dengan mengucurkan air mata, tapi perihnya hati ini melihat keluarga yang ditinggalkan. Peristiwa ini hanya akan menjadi headlines berita selama beberapa hari untuk kemudian tenggelam oleh berita baru yang tak kalah hebohnya. Tapi kesedihan dan kehilangan yang dirasakan oleh keluarga akan tinggal selamanya.
Saat pemakaman dan tahlilan begitu banyak sanak saudara ,rekan sejawat dan masyarakat yang datang namun setelah itu tinggallah anak dan istri almarhum yang harus tetap tegar melanjutkan hidup yang terasa bagaikan mati.
Saya sepakat bahwa aksi ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, aksi penyerangan ini merupakan sebuah simbol dan bentuk perlawanaan kepada kedaulatan negara yang berarti mendiamkannya tanpa tindakan nyata seperti membiarkan kewibawaan negara diinjak injak oleh para pelaku teror ini.
Polri tidak akan tinggal diam, kami pasti akan berusaha sekuat tenaga mengungkapnya siang dan malam tanpa mengenal lelah. Meningalkan keluarga dan kehidupan normal dan menggantinya dengan kegiatan mencari informasi , membaur kedalam masyarakat untuk memperkuat informasi yang didapat, pembuntutan dan penyamaran yang melelahkan hingga segala misteri dapat terkuak.
Ketika berhasil kami tidak ingin dipuji………….tapi cukuplah dimengerti bahwa kerja keras kami ini hanyalah demi keamanan dan ketertiban masyarakat. Cukuplah segala duka, payah dan kesulitan dirasakan oleh personil Densus/Polri yang bertugas tapi perasaan tentram dan damai akan selalu hadir di setiap lingkungan masyarakat.
Wahai Bhayangkara sejatiku, dari lubuk hati yang terdalam kami doakan semoga arwah para syuhada diterima disisi ALLAH SWT dan dilipatgandakan pahalanya serta mendapatkan tempat yang layak di surga MU.
Medan , 23 September 2010.

