Mata Hati

deru suara hati

MEDIA DAN OPINI

Media tengah berpesta pora , oplah koran meningkat,siaran live melalui stasiun televisi yang khusus menyiarkan tentang berita meningkat tinggi ratingnya, publik menjadi tergantung dan kecanduan dengan pemberitaan yang tengah hangat saat ini, ” Polri dan KPK”. Berita apapun yang membahas tentang hal tersebut menjadi bahan pembicaraan yang menarik , berbagai pihak dan ahli berebut menyatakan pendapatnya, ajang ini jadi kesempatan bagi mereka untuk menimati rasanya menjadi selebriti yang bermandikan blitz kamera dan todongan mikrofon para reporter.

Benar atau salah urusan belakangan, yang penting yakin,berapi api serta pendapat yang disampaikan dijamin menimbulkan polemik baru, judul acaranya boleh saja “mengklarifikasi” tapi isinya justru menambah luka baru serta memancing pihak lain untuk kebakaran jenggot dan kemudian keesokan harinya akan hadir untuk membantah,marah dan bila perlu “ngajak berantem” dibawah sorotan kamera dengan disaksikan para pemirsa.Ditambah lagi tingkah para reporter atau pembawa acara yang berkesan mengarahkan opini agar sesuai dengan konsep yang telah disiapkan. Dengan mengatas namakan publik dan masyarakat umum yang menginginkan kebenaran media seakan akan menjadi hakim yang bertanya di persidangan dan pihak yang ditanya wajib menjawab bila tidak ingin dihakimi. Padahal kita tidak pernah tahu masyarakat mana yang diwakili oleh pihak media , jangan jangan malah si media yang justru punya sponsor tertentu, siapa yang tahu???

Berita yang sedang panas ini secara tragis telah berhasil mengalahkan pemberitaan tentang gempa bumi yang melanda kota Padang. Bukankah masih banyak saudara saudara kita yang lebih menderita disana, yang saat ini tengah berhimpit himpitan di tenda pengungsian, terbangun saat mentari datang tanpa tahu apa yang harus dilakukan dan termenung memikirkan tempat bernaung yang amblas dihantam gempa. Sepantasnya kondisi ini yang disorot habis habisan dan mendapatkan porsi yang lebih besar dari media, agar penderitaan tersebut diketahui ke seluruh penjuru tanah air dan membangkitkan semangat kebangsaan dan persaudaraan kita untuk mengulurkan bantuan kita pada mereka. Mungkin media berpikir penderitaan saudara kita di Padang tidak berarti dibanding perseteruan antara institusi hukum yang tengah terjadi saat ini, seolah olah hal tersebut paling penting dibandingkan hal lainnya.

Pada tahun 1948 seorang sosiolog terkenal bernama Harold Laswell menyatakan dalam teorinya tentang komunikasi media yang dikenal dengan nama Laswell Formula / Formula Laswell dimana dalam bagannya ia menyatakan ada 5 elemen penting yang berperan sehingga komunikasi terse but dapat berlangsung.

COMMUNICATOR >>>>>>> MESSAGES >>>>>>>> CHANNEL >>>>>>> RECEIVER >>>>>>> EFFECT

1. Communicator ( pembicara )

Siapakah si pembicara ini ? Tentunya ia memegang peranan penting sebagai asal muasal berita , hal yg perlu diperhatikan dalam komunikasi massa ini adalah :
a. Siapa yang memiliki surat kabar tesebut ?
b. Apa tujuannnya?
c. Apa aliansi politiknya?
d. Apakah mereka mencoba menyusun kebijakan editorialnya?
e. Bagaimana sang editorial menentukan berita apa yang akan dimuat ?

2. Message ( pesan )
Pesan apa yang ingin disampiakan oleh sang pembicara. kepada siapa muatan pesan tadi ditujuan atau ingin disampaikan, karena intinya ia ingin pesan tersebut di dengan dan sampai pada tujuannya.

3. Channel ( media )
Melalui apa pesan tadi ingin disampaikan, saat ini kita punya beragam cara untuk menyampaikan pesa, baik media cetak,elektronik hinggai dunia maya , dengan didukung kecanggihan teknologi yang semuanya telah terkonvergensi hingga semua media diatas dapat diakses melalui peralatan yang dapat di pegang dalam genggaman tangan. Namun perlu diingat bahwa pemilihan media yang tepat untuk menyampaikan pesan akan membuat pesan tersebut lebih berbobot,efektif dan membekas di hati pada penerima pesan. Karena bisa kita bayangkan bila kita menyampaikan pesan melalui media yang salah akan menghasilkan pesan tersbut disalah tafsirkan bahkan tidak sampai ke tujuannya.

4. Receiver ( penerima )

Sangat penting bagi pembicara memilih pesan yang tepat, kemudian menentukan media yang efektif dan tidak kalah pentingnya kepadqa siapa pesan ini ingin disampaikan. Bukankah itu tujuan utama komunikasi;mentarnsportasikan pesan kepada penerima, apalah artinya anda mengrimkan surat cinta yang dibuat seharian penuh dan menghabiskan ratusan kertas untuk menuliskan curahan hati anda namun surat tersebut tidak sampai kepada alamtnya…… SIA SIA , itulah yang nanti akan terjadi.

5. Effect ( efek )
Setelah pesan sampai , hal terakhir yang ingin disaksikan oleh si pembicara/ sang komunikator adalah efek dari pesan yang ingin disampaikannya. Boleh jadi ke 4 elemen diatas telah dilakukan dengan baik, tapi apalah daya bila si penerima pesan tidak memberikan efek yang diharapkan, bukankah semua akan sia sia, ibarat surat cinta yang tak terbalas hinga menyisakan lara di hati serta menambah penasaran.

Kembal ke topik diatas, maka apa yang diharapkan oleh media dari pendengarnya, akan sangat sangat logis bila pesan yg disampaikan adalah suatu hal yang salah kemudian sampai kepada pendengar yang salah dan kemudian menimbulkan efek yang tidak diharapkan dan pada akhirnya akan menimbulkan masalah. Media sudah seharusnya menyadari hal ini sejak awal, tugas mereka bukan membentuk opini masyarakat sesuai kebijakan politik atau keinginan pemili media, tapi justru menciptakan opini yang positif dan menentramkan publik .

Hal yang sama sama ingin kita hindari adalah terjadinya trial by the press akibat efek dari pemberitaan yang salah ataupun juga terjadinya character assasination oleh publik, semoga ketakutan saya tadi tidak terjadi dan kita akan mendapatkan ending yang baik untuk semua pihak dan tetap menjunjung tinggi hukum sebagai panglima demi tegaknya kedaulatan negeri ini.

12/11/2009 Posted by harry | Bebas | | No Comments Yet

Cicak,Buaya,Anggodo,Susno,Ritonga,Bibit dan Chandra

tri brata Seminggu belakangan ini Negara kita tercinta diharu birukan dengan perseteruan Cicak VS Buaya serta munculnya nama nama  yang kemudian menjadi sangat tenar saat ini yaitu Anggodo,Susno,Ritonga,Bibit dan Chandra Anggodo,Susno,Ritonga,Bibit dan Chandra.

Sejak mantan dua orang ketua KPK ini ditetapkan sebagai tersangka mulai tanggal 15 November dan kemudian ditahan sejak tanggal 28 November di Mabes Polri maka bumi Indonesia seperti bergetar. Media massa,jalur dunia maya,aksi demo,tuntutan advokat,dukungan dari berbagai tokoh nasional dan elemen bangsa datang bertubi tubi untuk melahirkan suatu gerakan yang intinya menuntut agar Bibit dan Chandra segera dibebaskan. Ditambah lagi dengan adanya uji materi di MK tentang Undang Undang KPK yang memutuskan untuk memutar transkip rekaman KPK terhadap Anggodo dan diperdengarkan kemarin tanggal 3 November yang dapat dilihat serta didengar oleh seluruh masyarakat Indonesia melaui berbagai media yang ada.

Sebelumnya isu atau opini yang hangat beredar di masayarakat sejak penetapan Chandra – Bibit sebagai tersangka dan kemudian ditahan adalah :

  1. Upaya mengkerdilkan pemberantasan Korupsi di Indonesia dengan menggoyang KPK.
  2. Perseteruan Polri dan KPK
  3. Kriminalisasi KPK
  4. Rekayasa kasus
  5. Menutupi kasus Bank Century

Hasil pemutaran transkrip tersebut pada akhirnya menuai banyak opini serta pendapat yang beredar di masyarakat. Yang jelas posisi Polri dan Jaksa menjadi sangat terpojok serta memperkuat keyakinan masyarakat bahwa Polri terlihat seperti semena mena dalam menyidik kasus ini. Ditambah lagi dengan disebut sebutnya beberapa nama baik petinggi Polri maupun Penyidiknya menimbulkan persepsi dan opini baru tentang kasus yang tengah berkembang saat ini.

Desakan serta seruan dari Tim Pengacara dan berbagai pihak agar Presiden mengganti Kapolri dan Jaksa Agung makin kencang, apalagi desakan agar Kabareskrim Komjen Susno Duadji mengundurkan diri makin bertambah tambah. Polri dikatakan mengatur kronologis BAP , menerima suap,Anggodo memiliki kekuasaan yang sedemikian hebat sehingga bisa mengatur Jaksa dan Polisi dan berbagai pendapat lainnya yang terus terang biukin hati ini agak panas. Wajar dong kalau institusi tempat kita mencari makan diobok obok pastilah perasaan membela itu akan muncul dgn sendirinya.

Sebagai anggota Polri jujur harus saya katakan bahwa saya sangat sangat concern dan menyimak dengan baik setiap perkembangan kasus ini, apa lagi sidang di MK tersebut. Hal yang terbersit dalam benak saya adalah dimana letak adanya rekayasa kasus dan upaya ntuk mengkriminalisasi KPK.  Sebagai seorang anggot berpangkat rendahan pemikiran saya adalh  :

  1. Polri tengah menyidik kasus penyalahgunaan wewenang oleh mantan ketua KPK Bibit dan Chandra hingga tahapan penahanan, keseluruhan proses penyidikan tadi pastilah dilakukan dengan sangat berhati hati mengingat beban kasus yang ditangani dimana setiap langkah serta tindakan yang dilakukan oleh penyiyik pastilah telah dipertimbangkan matang matang.
  2. Bareskrim yang menangani kasus ini adalah Badan yang berisi penyidik penyidik paling handal di jajaran Polri, terdiri dari berbagai golongan kepangkatan dan jelas ada banyak orang pandai yang bertugas disana,mereka sarat dengan pengalaman tugas baik di lapangan maupun staf. Penyidikan kasus dengan skala nasional seperti ini pastilah ditangani oleh Tim khusus yang dibentuk hanya untuk menyidik kasus ini dengan harapan mereka fokus pada jalannya penyidikan serta profesioanal  dalam melakukan pemeriksaan serta penerapan pasal pasal yang akan digunakan.
  3. Polri telah melakukan tugasnya sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam KUHAP , mengapa tidak biarkan kami menyelesaikan tugas tersebut hingga menyerahkan tersangka dan barang bukti ke Kejaksaan.Mari kita sama sama lihat di pengadilan nanti apa yang akan menjadi keputusannya, sehingga lahir suatu kepastian hukum tentang status Chandra dan Bibit.

 

Rata rata orang yang diundang untuk berbicaar di televisi adalah para pakar hukum ataupun orang yang mengerti hukum, namun yang terjadi adalah hal sebaliknya. Bukan logika hukum yang digunakan namun lebih cenderung menuruti maunya mereka sendiri,kalau memang mengerti hukum sudah barang tentu mereka pasti tahu bahwa proses penyidikan dimulai oleh Polri dan berakhir ketiuka berkas dan tersangka diserahkan pada Kejaksaan untuk selanjutnay dilakukan prosews penuntutan dan akan berakhir pada proses pengadilan dengan dibacakannya Vonis hakim.

Dengan demikian seharusnya mereka juga tahu bahwa Polri hanya menjalankan apa yang telah diamanatkan Undang Undang tentang bagaimana melakukan penyidikan , bukan melakukannya sesuai dengan kemauan penyidik atau Polri. Kalau kita berbicara tentang hukum maka patuhilah logika dan prosedur hukum , bila merasa Polri salah dalam melakukan penyidikan silahkan mengajukan Pra Peradilan, intinya salurkanlah melalui mekanisme yang sudah ada.

Semoga saja prahara ini akan berakhir dengan indah, dan masing masing pihak dapat mengambil hikmah yang terkandung dibalik semua peristiwa yang terjadi ,utamanya bagi kami Polri agar lebih profesioanal dan menjunjung tinggi HAM.

04/11/2009 Posted by harry | Kedinasan | | No Comments Yet

Negeri 5 Menara

5 menara Buku ini saya baca secara maraton sejak hari Minggu siang dan tepat tengah malam tadi berhasil saya selesaikan walau mata sudah berat sekali namun jalinan cerita yang disajikan memaksa saya terus membaca hingga halaman terakhir . Alasan utama saya membeli buku ini adalah karena Novel ini best seller dan dalam tempo 2 bulan sudah naik cetak ditambah lagi dengan adanya komentar dari berbagai tokoh ternama yang merekomendasikan untuk membaca buku ini , plus latar belakang kehidupan di pesantren yang memancing keingintahuan saya tentang kehidupan disana.

Kata kata man jadda wajada benar benar merasuk dihati dan menurut saya adalah ruh dari keseluruhan isi buku Negeri 5 Menara.  ”Man jadda wajada siapa yang bersungguh sungguh pasti berhasil” ,benar benar kata sakti yang selalu terngiang ngiang terus di telinga dan muncul di benakku , memberikan pemahaman pada diri bahwa hanya kesungguhan dalam melakukan sesuatu yang akan membuahkan hasil yang diinginkan.

TN ku Beberapa bab setelah membaca buku ini membawaku kepada kenangan masa lalu tentang perjalanan hidup yang telah terlewati. Mile stone hidup saya berawal dari merantau ke Magelang untuk menempuh SMA di SMA TN sedangkan tokoh utama dalam buku ini Alif bernagkat ke Ponorogo untuk masuk Pesantren di Pondok Madani. Aku berasal dari Jambi sedangkan Alif dari Sumatera Barat , ia sekolah di Jawa Timur sedangkan aku ke Jawa Tengah dengan latar belakang tempat pendidikan berasrama dengan pola pengasuhan 24 jam serta terletak di lahan yang sama sama seluas 14 hektar dengan siswa yang semuanya laki laki dan berasal dari seluruh pelosok Indonesia.

Melihat A.Fuadi sang pengarang mengisahkan suka duka masa sekolahnya mau tidak mau membuatku juga terkenang akan peristiwa sejak Bapak menanyakan minatku untuk sekolah jauh dari kampung halaman, p[erjalanan berangkat ke tempat yang belum pernah kudatangi sama sekali,mengikuti tes masuk,bersekolah hingga akhirnya lulus dan melanjutkan pendidikan di AKPOL Semarang.

Cuma yang membedakan adalah aku tidak mempunyai teman akrab seperti Alif dan 5 temannya yang selalu bersama sama dalam setiap kegiatan, benar bahwa aku mempunya beberapa teman akrab namun tidak selalu terlihat bareng. Aku teringat saat saat makan siang , saat saat diumumkan oleh piket di ruang makan siapa saja yang mendapat surat atau ketika hari Minggu datang dan pengeras suara berbunyi bertalu talu mengumumkan panggilan kepada siswa yang beruntung mendapatkan kunjungan tamu……..nasib kita sama Uda Alif…sama sama tidak pernah dapat tamu .

Aku juga bermimpi bahwa suatu saat aku harus berangkat ke luar negeri menuntut ilmu melihat bagaimana kehidupan serta keindahan alamnya , sesuatu yang benar benar hanya sekedar angan dan kemudian menjadi kenyataan sesungguhnya. Allah memang maha pengasih dan penyayang kepada hambanya, hal yang tidak pernah kuragukan sedikitpun kebenarannya . Sudah 16 tahun berlalu sejak aku menamtkan SMA namun kenangan dan memori yang terjadi disana tidak akan pernah lepas dari hati dan ingatan,sepanjang hayat masih dikandung badan akan selalu terpatri sebagai salah satu masa masa yang paling indah dalam hidupku.

Mantra  Man jadda wajada saat ini kuperlukan dengan amat sangat untuk memotivasi diri dalam menghadapi tes masuk SESPIM yang akan dimulai akhir bulan ini , aku sadar tanpa kesungguhan,kerja keras dan sifat pantang menyerah maka keberhasilan hanyalah angan angan semu , mimpi ….bagaikan pungguk merindukan bulan. Ya Allah beri aku kekuatan dan rahmatmu untuk melalui semua ini , dengan ridhomu ku yakin untuk melangkah, ikhlaskan hati ini untuk tabah mengahdapi berbagai cobaan yang kn datang menghadang.

03/11/2009 Posted by harry | Buku | | No Comments Yet

Definitely,Maybe

Definitely Tadi malam menjelang tidur,  seperti biasa kegiatan ritual yang tidak pernah tertinggal adalah mengecek saluran di Indovision, setelah bolak balik pencet saluran yang pas akhirnya pilihan jatuh pada no 7 , HBO dengan judul film “Definitely,Maybe” mumpung baru dimulai sepuluh menit jadi nggak bakalan kebingungan untuk memahami jalan ceritanya.

Dari niat awal hanya untuk menunggu kantuk datang,akhirnya mata ini benar benar menyala terang hingga 120 watt karena jalan ceritanya yang menarik dan sayang banget kalo dilewatkan. Film ini mengisahkan tentang Will Hayes ( Ryan Reynolds ) dan putrinya Maya ( Abigail Breslin )    , ketika sang ayah menceritakan bagaimana romantika kehidupan cinta ayahnya dengan berbagai gadis  hingga bertemu dengan ibunya dan kemudian berpisah, disajikan dengan sangat menarik serta bernuansa komedi dibumbui  sedikit teka teki yang membuat kita tetap harus menonton hingga akhir untuk mendapatkan jawabannya.

Film ini diproduksi tahun 2008 dengan sutradara Adam Brooks ( Sutradara yang juga menukangi Film Notting Hill dan Love Actually ) dan dirilis pertama kali di Amerika pada tanggal 14 Februari 2008 dengan dibintangi oleh Ryan Reynold sebagai Will Hayes, Rachel Weisz ( Istrinya Brendan Frasier dalam Filem Mummy ) sebagai Summer Hartley,Isla Fisher sebagai April Hoffman dan Elisabeth Banks sebagai Emily. Film ini berhasil memperoleh 1 penghargaan sebagai Teen Choice Movie 2008 , lumayan laris dari sisi penjualan di seluruh dunia, dan memang layak untuk anda tonton juga di rumah.

Alur cerita dimulai dengan suasana kampanye Bill Clinton pada tahun 1994 hingga akhirnya ia terpilih sebagai Presiden Amerika . Dan Will Hayes adalah salah satu penulis naskah pidato dari seorang Politikus yang menjadi tim kampanye pemenangan  Bill Clinton di New York. Sang ayah menceritakan kehidupannya dan juga wanita wanita yang hadir dalam hidupnya dengan dipotong adegan di  ruangan  tempat tidur putrinya Maya sebagai tempat sentral dimana rangkaian cerita tersebut dikisahkan dari awal.

Silih berganti wanita datang dan pergi dalam periode kehidupan Will , dimulai dari Emily teman sekampus yang akhirnya menjadi istri dan Ibu dari Maya, Summer seorang Jurnalis yang akhirnya menamatkan karier Will di dunia Politk, April sang gadis fotokopi yang selalu hadir dalam beberapa periode hidup Will juga Russel teman karib Will.

Dan tanpa terasa waktu di HP ku menunjukkan  pukul 00.30 ketika film tersebut selesai dengan akhir happy ending. Dimana Will dengan dicomblangi oleh Maya bertemu kembali dengan salah satu wanita yang pernah hadir dalam hidupnya yaitu April Hauffman  , and that’s where the story ends.Pesan yang dapat saya tangkap dari filem ini adalah betapa cinta itu penuh dengan perjuangan dan pengorbanan, jalannya hampir hampir tidak pernah mulus tapi selalu terjal dan berliku. Pada akhirnya cinta sejati yang akan menjadi the trully winner and they live happily ever after.Buat gw jadi kangen ama bini N anak di Medan sono………….

23/10/2009 Posted by harry | Film | | No Comments Yet

PERKAP NO 8 tahun 2009 tentang IMPLEMENTASI DAN STANDAR HAM DALAM PEMYELENGGARAAN TUGAS POLRI

POl unjuk rasaPerkap ini termasuk Peraturan yang baru dengan maksud untuk  memberikan batasan lebih jelas tentang bagaimana anggota dalam melaksanakan tugas di lapangan dengan mengedepankan prinsip Hak asasi Manusia. Secara lebih detil dapat disaksikan pada lampiran berikut, semoga bermanfaat.

PERKAP NO.8

21/10/2009 Posted by harry | Kedinasan | | No Comments Yet